Chat with us, powered by LiveChat

Jangan Sampai MRT Menjadi Sumber Kemacetan Baru

Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono menilai masih dibutuhkan kebijakan lebih lanjut agar pengoperasian Moda Raya Terpadu (MRT) efektif, terutama soal integrasi moda.

Bambang mengatakan, integrasi moda dibutuhkan agar masyarakat semakin dimudahkan mengakses MRT dan meninggalkan kendaraan pribadi.

“Integrasi antara MRT dengan angkutan pengumpan merupakan kunci. MRT yang berfungsi sebagai ‘tulang punggung’ tidak dapat berdiri sendiri,” katanya seperti dilansir dari Antara, Senin (18/3).

Dia menambahkan, agar layanan MRT berjalan optimal maka harus ditopang oleh angkutan umum massal yang mudah diakses oleh masyarakat. Ini bertujuan mempermudah penumpang ketika melanjutkan perjalanan setelah menggunakan MRT ataupun sebaliknya.

“Jangan sampai terjadi nanti, MRT yang kita harapkan mampu mengurai kemacetan malah menjadi sumber kemacetan baru,” ungkapnya.

Karena itu, BPTJ bersama Dinas Perhubungan DKI Jakarta, MRT, LRT Jakarta serta TransJakarta terus melakukan koordinasi guna mengantisipasi kendala-kendala yang kemungkinan terjadi ketika nanti resmi beroperasi. Selain itu, Bambang mengungkapkan, pentingnya integrasi secara sistem, khususnya pembayaran agar satu alat untuk semua moda.

“BPTJ sudah memfasilitasi proses integrasi sistem pembayaran ini, tinggal menunggu audit dari Bank Indonesia,” ujarnya.

Dia berharap pengoperasian MRT bisa membawa kembali budaya berjalan kaki. Misalnya untuk yang kantornya dekat dengan MRT, cukup jalan kaki menuju kantor.